Senin, 18 Februari 2013

pulau komodo

Pulau Komodo salah satu Keajaiban Purba

Labuan Bajo akhirnya. Di ujung Pulau Flores itu, kami diantar menyentuh Bandara Komodo dengan sebuah Fokker 50 berkapasitas sekitar 40 tempat duduk.
Untuk ukuran daratan yang dititipkan kekayaan melimpah-ruah, bandar udara itu sungguh sederhana. Tak ada yang teramat menonjol. Di ruang pengambilan bagasi, saya dan teman-teman disambut oleh berbagai poster dan pamflet berisi informasi tentang agen perjalanan, resor, dan klub menyelam. Bagi para wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke wilayah itu, barisan promo itu pasti berguna.
Dari Bandara Komodo kami meneruskan perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan menuju pelabuhan Labuan Bajo, pintu gerbang utama menuju Taman Nasional Komodo yang mencakup tiga pulau besar yaitu Rinca, Komodo dan Padar. Pemandangan kapal-kapal Phinisi yang berjejer rapi sudah tampak di depan mata sekitar 20 menit setelah kami meninggalkan bandara. Nelayan-nelayan lokal terlihat siap menawarkan kapal sewaan dengan tujuan Taman Nasional Komodo. Biasanya mereka memasang tarif sebesar Rp 800.000 hingga Rp 2.000.000, yang bergantung dengan tujuan serta lama perjalanan.

Sore itu kami mendapat kesempatan merasakan nikmatnya berlayar menggunakan yacht. Tujuan awal adalah Pulau Rinca, dapat dicapai sekitar satu jam. Tidak perlu takut akan mati kebosanan sebab pulau-pulau kecil dengan topografi berbukit-bukit yang bertebaran di sepanjang perairan pasti akan mencuri perhatian dan mengundang decak kagum Anda. Sebuah pemandangan baru bagi pencinta jalan-jalan macam saya.
Sebuah dermaga kecil yang menjorok, biasa disebut Loh Buaya, menjadi sandaran yacht yang kami tumpangi. Di pintu masuk pulau terpampang beberapa papan larangan keras berburu beberapa jenis binatang seperti rusa, babi, kerbau dan lainnya di Pulau Rinca. Hal ini tentu saja penting demi menjaga kestabilan rantai makanan komodo, sang predator utama. Intinya, jangan sampai komodo kekurangan makanan. Jika hal itu sampai terjadi, mereka mampu menyerang penduduk desa Komodo di sekitar pulau itu.
Beberapa polisi hutan yang turut dalam rombongan ini banyak bercerita kepada saya tentang Taman Nasional Komodo yang dahulu diresmikan oleh Presiden Soeharto. Komodo, yang sering kali disebut dengan panggilan keren the dragon ini, merupakan spesies purba endemik yang hidup dari zaman Tertiarum. Seharusnya hewan ini sudah punah seperti T-rex dan berbagai jenis purbakala lain yang kini habitatnya berpindah ke museum sebagai jejeran fosil saja. Ajaibnya, hewan ini ternyata masih eksis hingga sekarang dan hanya bisa ditemukan hidup bebas di Taman Nasional Komodo dengan total populasi mencapai 2500 ekor.
Acara trekking di Pulau Rinca agak terhambat karena hujan turun dengan begitu derasnya. Mendung memang sudah tampak memayungi kami sejak dari Labuan Bajo. Saya berlindung di sebuah dapur umum milik para Ranger sambil mengamati segerombolan komodo yang bermalas-malasan di kolong barak kayu. Dengan panjang tubuh bisa mencapai 3 meter dan berat 90 kilogram, hewan purba ini ternyata juga mampu memanjat pohon dan berenang bermil-mil di laut.
Walaupun pengunjung akan selalu ditemani ranger berpengalaman, namun sebaiknya Anda bisa menjaga diri dan berhati-hati dengan tidak melakukan hal-hal spontan, berisik atau sedang menderita luka terbuka yang berdarah (atau bahkan menstruasi). Komodo memiliki indra penciuman yang tajam, dan bau darah dengan mudah akan membangkitkan nafsu makannya.
Kunjungan terbanyak di Taman Nasional ini biasanya terjadi pada Juli-Agustus, bulan liburan musim panas turis-turis asing. Kebetulan, musim kawin Komodo juga berkisar di pertengahan tahun. Pertarungan sengit komodo-komodo jantan dalam memperebutkan seekor betina menjadi atraksi yang paling dinanti.
Berbeda dengan Pulau Rinca, wilayah Taman Nasional Komodo lainnya yang biasa disebut Loh Liang, yaitu Pulau Komodo, memiliki rute trekking yang beragam dan lebih menantang. Saya dan teman-teman lainnya mengikuti jalur yang termasuk dalam medium track. Selain bertemu dengan beberapa komodo, selama satu jam perjalanan memasuki hutan itu saya menyaksikan gerombolan rusa yang sedang asik menikmati biji asam, menemukan anggrek jenis Vanda limbata yang tumbuh liar di pepohonan, serta memergoki beberapa Kakatua asyik bertengger di pucuk-pucuk pohon ketika berada di puncak Sulphurea Hill.
Destinasi wajib berikutnya adalah Pink Beach yang bisa ditempuh sekitar setengah jam dari Pulau Komodo. Memang jika dilihat dari kejauhan pantai ini tidak terlihat berwarna merah muda. Tapi begitu mendekat dan meletakkan segenggam pasir di tangan, barulah saya mengerti mengapa pantai ini disebut Pink Beach. Pasir putih bercampur butir-butir pecahan koral merah tersebar merata di bibir pantai! Amazing!
Snorkeling dan diving adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Ada surga bawah laut yang sangat layak untuk dinikmati. Trekking ke bukit teratas juga patut untuk dicoba untuk merekam gambaran indah yang seakan tiada habisnya: pantai biru jernih berpasir merah jambu yang dikelilingi gundukan bukit-bukit hijau.
Dan kesempatan langka berkunjung ke Taman Nasional Komodo tentu kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebelum benar-benar kembali ke Labuan bajo, belum lengkap rasanya jika tidak menikmati fenomena sunset di Pulau Kalong.
Pada pukul 18.00-19.00 WITA, kala matahari sudah ingin menutup hari dengan hanya meninggalkan hamparan cahaya merah di langit, ribuan kalong terbang menjauhi pulau, berhamburan, berdesakan, dan tampak sangat tergesa-gesa. Entah ke mana mereka akan berburu makanan. Yang jelas, pada keesokan hari serta hari-hari berikutnya, pemandangan langit merah dan ribuan kalong terbang ini akan terlihat jika kapal dihentikan di depan Pulau Kalong pada jam yang sama. Lagi-lagi saya hanya bisa berdecak kagum sambil tak henti mengambil gambar moment yang memorable itu. Entah kapan lagi saya bisa menyaksikan pemandangan seperti ini.
Banyak teman-teman saya yang bilang, lebih murah traveling ke negara tetangga daripada ke Indonesia bagian Timur. Mahalnya bisa berkali-kali lipat. Tapi menurut saya, besarnya uang yang dikeluarkan sangat sebanding dengan keindahan budaya dan alam baik di darat maupun di dalam laut yang mungkin tidak ditawarkan oleh destinasi lain. Semoga saja kelak saya memiliki kesempatan untuk kembali mengunjungi tempat ini kembali.
Dwi Putri Ratnasari mendedikasikan hidupnya untuk traveling, bermimpi untuk mengunjungi Marakesh suatu hari nanti. Mengasuh blog wisata Hifatlobrain.net.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar