KUALITAS AIR DALAM BUDIDAYA LAUT
| Author:
Budidaya
laut merupakan salah satu usaha perikanan dengan cara pengembangan
sumber-dayanya dalam area terbatas baik di alam terbuka maupun tertutup.
Tempat untuk budidaya laut, demikian pula untuk air tawar, harus
mempunyai fasilitas alami tertentu, terutama persediaan air yang sangat
cukup, dengan suhu, salinitas dan kesuburan yang sesuai (BARDACH et al.
1972 ).
Dalam hal ini penting diperhatikan pula bahwa pengusaha budidaya
menjalankan pengawasan melalui pemilikan, hak sewa menyewa atau cara
lain untuk menjalankan pengawasan. Di Laut sistem demikian menimbulkan
masalah, karena orang masih mempunyai pandangan bahwa laut adalah milik kita bersama.
BEBERAPA SIFAT OSEANOGRAFI PERAIRAN SELAT SUNDA
Untuk memberi gambaran singkat tentang kondisi perairan
terdekat dimana workshop ini diselenggarakan, berikut disajikan catatan
tentang beberapa sifat perairan Selat Sunda sebagai hasil dari beberapa
penelitian selama periode 1927 sampai 1982 ( BIROWO, 1983).
Sifat Angin
Sifat cuaca di Selat Sunda, seperti halnya di perairan
Indonesia umumnya dipengaruhi oleh angin musim. Pada musim tenggara
(April – September) angin berhembus ke arah barat laut dan pada musim
barat laut ( November – Maret ) angin berhembus ke arah tenggara
mengakibatkan terjadi perubahan-perubahan cuaca yang agak teratur di
Selat Sunda.
Keadaan Ombak
Keadaan laut di Selat Sunda pada umumnya agak tenang atau
sedang. Selama musim barat, antara bulan Oktober dan Maret keadaan laut
lebih berombak daripada bulan-bulan yang lain. Dalam periode ini tinggi
ombak dapat mencapai 1,5 sampai 2 m. Pada musim timur, antara April dan
September ombak biasanya lebih kecil, antara 0,5 – 1 m. Keadaan laut
yang paling tenang biasanya terja di bulan-bulan April, Mei dan Juni
dengan tinggi gelombang kurang daripada 0,5 m.
Pasang surut dan arus.
Sifat
pasang -surut Selat Sunda adalah campuran, condong ke harian ganda. Dua
kali pasang dan dua kali surut terjadi dalam satu hari bulan secara tak
teratur. Perbedaan pasang surut biasanya lebih daripada 1 m.
Suhu dan salinitas
Suhu dan lapisan di permukaan laut di Selat Sunda, seperti
diperairan Indonesia lainnya tidak banyak bervariasi dari bulan ke
bulan. Ia berkisar antara 28,0°C dan 29,5°C.Tinggi rendahnya suhu
lapisan permukaan ini berkaitan dengan interaksi antara udara dan air
laut. Pada musim barat dan timur, angin kencang menyebabkan penguapan
yang melebihi kemampuan penyinaran, berakibat turunnya suhu. Udara basah
yang terjadi pada musim barat memperkuat pendinginan. Pada musim
peralihan penyinaran melebihi penguapan, berakibat pemanasan air
permukaan laut. Sampai kedalaman 100 m, suhu homogen.
PENGARUH FAKTOR FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP BUDIDAYA LAUT
Budidaya laut adalah budidaya biota laut yang hidup dalam air
laut. Ini berarti bahwa air laut merupakan medium dimana biota laut
tersebut hidup, tumbuh dan berbiak lebih baik daripada rekan-rekannya
yang tidak dibudidayakan.
Cara mengusahakan budidaya laut secara mudahnya dapat dibagi
menjadi budidaya ekstensif, yakni pemeliharaan biota laut di suatu
perairan yang cukup laus dengan padat peneberan yang rendah. Biota yang
dibudidayakan dapat disediakan dari suatu sumber (pembenihan,
pengumpulan dari alam) atau dari populasi alami yang masuk ke sistem
dalam bentuk burayak atau juwana. Mereka biasanya hidup dari makanan
alami. Contohnya adalah budidaya kerang, tiram dan rumput laut. Budidaya
intensif dilakukan dengan padat penebaran tinggi dalam suatu lingkungan
sempit seperti kurungan atau, kolam pembenihan dengan sistem air
mengalir untuk memperoleh volume air sebesar-besarnya guna persediaan
zat asam dan pengangkutan kotoran. Binatang yang dibudidaya dapat diberi
makanan buatan dalam bentuk pelet. Seluruh sistem harus secara teliti
diawasi dan dipantau. Contoh yang sudah mencapai teknologi canggih
adalah pembenihan ikan trout dan salmon di Amerika Serikat dan di Eropa.
Di Taiwan terdapat juga kategori ini, yakni budidaya bandeng.
Beberapa
faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan biota
laut yang dibudidaya adalah sseperti di bawah ini :
S u h u
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di
dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum
van’t Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun
hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses metabolisme akan
menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun
lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses
kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan
binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan.
Salinitas
Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi
jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman
tekanan osmotik.
Jenis-jenis biota perenang ditakdirkan untuk mempunyai hampir
semua jaringan-jaringan lunak yang berat jenisnya mendekati berat jenis
air laut biasa, sedangkan jenis-jenis, yang hidup di dasar laut (bentos)
mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada air laut di atasnya.
Kekeruhan (Siltasi)
Siltasi tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan
air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk
fotosintesa.
Kadar oksigen terlarut
O2 terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan
akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun
beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya
dapat hidup dalam keadaan anaerobik hanya sebentar tetapi memerlukan
penyediaan O2 yang berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam
keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2
sama sekali. Sumber O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya,
proses fotosintese dan glycogen dari binatang itu sendiri. Air yang tak
ber – O2 selalu jarang terdapat disamudera. O2 dihasilkan oleh proses
fotosintesa dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dan diperlukan bagi
pernafasan.
pH (derajat keasaman)
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk
mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan
memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat
menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat
membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia
umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5. Perubahan pH
dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan,
burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer.
Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada
dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat
memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Unsur hara
Sebagian besar unsur-unsur kimiawi yang diperlukan oleh
tumbuh-tumbuhan dan binatang terdapat dalam air laut dalam jumlah lebih
dari cukup, sehingga kekurangannya tak perlu dipertimbangkan sebagai
faktor ekologi. Dalam beberapa hal kepekatan unsur “trace” menjadi
penting, tapi ini terjadi sangat jarang sekali dibanding dengan di
darat.
Fosfat dan nitrat dalam kepekatan bagaimanapun selalu dalam
rasio yang tetap. 15 at. N : 1 at P. Rasio ini cenderung tetap dalam
fito dan zooplankton. Hanya dalam keadaan tertentu rasio dalam air
berubah.
Faktor-faktor lingkungan lain yang penting diperhatikan adalah penyinaran matahari, gelombang dan arus.
Penyinaran
Sinar mempunyai arti penting dalam hubungannya dengan beraneka
gejala, termasuk penglihatan, fotosintesa, pemanasan dan perusakan
aktinik. Mata adalah sensitip terhadap kekuatan sinar yang berbeda-beda.
Binatang-binatang mangsa mudah mengetahui pemangsanya pada terang bulan
daripada gelap bulan.
Dalam hubungannya dengan fotosintesis, intensitas dan panjang
gelombang sinar sangat penting. Alga hijau Enteromorpha kecepatan
fotosintesanya tinggi pada sinar merah, sangat kurang pada sinar biru,
dan sangat rendah pada sinar hijau. Bentuk-bentuk yang hidup di laut
dalam cenderung untuk menggunakan sinar-sinar dengan spaktrum hijau dan
biru. Karena sifat sinar yang masuk air, spektrum merah lebih banyak
diserap air dalamperjalanan ke bawah air.
Gelombang
Secara ekologis gelombang paling penting di mintakat pasang
surut. Di bagian yang agak dalam pengaruhnya mengurang sampai ke dasar,
dan di perairan oseanik ia mempengaruhi pertukaran udara dan agak dalam.
Gelombang ditimbulkan oleh angin, pasang-surut dan
kadang-kadang oleh gempa bumi dan gunung meletus (dinamakan tsunami).
Gelombang mempunyai sifat penghancur. Biota yang hidup di mintakat
pasang surut harus mempunyai daya tahan terhadap pukulan gelombang.
Gelombang dengan mudah menjebol alga-alga dari substratanya. Ia diduga
juga mengubah bentuk karang-karang pembentuk terumbu. Gelombang
mencampur gas atmosfir ke dalam permukaan air sehingga memulai proses
pertukaran gas.
A r u s
Arus mempunyai pengaruh positip maupun negatip terhadap
kehidupan biota perairan. Arus dapat mengakibatkan ausnya
jaringan-jaringan jasad hidup yang tumbuh di daerah itu dan
partikel-partikel dalam suspensi dapat menghasilkan pengikisan. Di
perairan dengan dasar lumpur, arus dapat mengaduk endapan
lumpur-lumpuran sehingga mengakibatkan kekeruhan air dan mematikan
binatang. Juga kekeruhan yang diakibatkan bisa mengurangi penetrasi
sinar matahari, dan karenanya mengurangi aktivitas fotosintesa. Manfaat
dari arus bagi banyak biota adalah menyangkut penambahan makanan bagi
biota-biota tersebut dan pembuangan kotoran-kotorannya. Untuk algae
kekurangan zat-zat kimia dan CO2 dapat dipenuhi. Sedangkan bagi binatang
CO2 dan produk-produk sisa dapat disingkirkan dan O2 tetap tersedia.
Arus juga memainkan peranan penting bagi penyebaran plankton, baik
holoplankton maupun meroplankton. Terutama bagi golongan terakhir yang
terdiri dari telur-telur dan burayak-burayak avertebrata dasar dan
ikan-ikan. Mereka mempunyai kesempatan menghindari persaingan makanan
dengan induk-induknya terutama yang hidup menempel seperti teritip
(Belanus spp) dan kerang hijau (My tilus viridis).
Pada kira-kira 1½ dekade yang lalu faktor-faktor lingkungan yang diuraikan di atas cukup untuk diperhatikan dalam menilai kualitas air untuk budidaya laut. Akan tetapi dengan cepatnya pertambahan penduduk dan digalakkannya industrialisasi di negara kita, maka dalam sepuluh tahun terakhir ini telah timbul pencemaran air dan pencemaran laut, karena masuknya limbah industri dan limbah rumah tangga yang tak terkendalikan ke dalam lingkungan akuatik.
Pada kira-kira 1½ dekade yang lalu faktor-faktor lingkungan yang diuraikan di atas cukup untuk diperhatikan dalam menilai kualitas air untuk budidaya laut. Akan tetapi dengan cepatnya pertambahan penduduk dan digalakkannya industrialisasi di negara kita, maka dalam sepuluh tahun terakhir ini telah timbul pencemaran air dan pencemaran laut, karena masuknya limbah industri dan limbah rumah tangga yang tak terkendalikan ke dalam lingkungan akuatik.
Bakteri
Kehadiran bakteri Escherichia coli ada kaitannya dengan
kehadiran bakteri dan virus patogen. Bakteri dan virus patogen dapat
terakumulasi dalam jaringan tubuh biota, terutama pada saluran
pencernaannya. Berbeda dengan jenis-jenis ikan, jenis-jenis kerang yang
dimanfaatkan sebagai bahan makanan adalah seluruh bagian tubuhnya yang
lunak, termasuk saluran pencernaannya. Oleh karena itu kemungkinan
penularan bakteri dan virus patogen melalui jenis-jenis kerang lebih
besar dibandingkan melalui ikan. Dengan demikian jumlah E. coli dalam
air untuk budidaya kerang lebih diperhatikan dari pada dalam air untuk
budidaya ikan dan rumput laut yang tidak dimakan mentah. Escherichia
coli ( E. coli ) yang kadarnya 1000/100 ml dapat memberi petunjuk adanya
bakteri patogen.
Senyawa – Senyawa fenol
Limbah senyawa fenol dalam perairan dapat merugikan karena :
Menimbulkan keracunan pada ikan dan biota yang menjadi makanannya.
Menguras oksigen dalam air. Hal ini disebabkan penguraian senyawa-senyawa fenol oleh mikro – organisme membutuhkan jumlah oksigen yang banyak.
Menimbulkan rasa tak sedap pada daging ikan.
Menimbulkan keracunan pada ikan dan biota yang menjadi makanannya.
Menguras oksigen dalam air. Hal ini disebabkan penguraian senyawa-senyawa fenol oleh mikro – organisme membutuhkan jumlah oksigen yang banyak.
Menimbulkan rasa tak sedap pada daging ikan.
Pestisida
Semua pestisida bersifat racun bagi manusia maupun organisme
hidup lainnya. Sebagian pestisida bersifat persisten, misalnya
organofosfat dan karbamat. Pestisida yang bersifat persisten umumnya
lebih berbahaya, karena sukar untuk dikeluarkan setelah berada didalam
jaringan tubuh. Gejala keracunan organoklorin umumnya sama, hanya
berbeda dalam tingkat keparahan. Dalam kasus-kasus ringan, dapat
menimbulkan sakit kepala, pusing-pusing, iritasi yang berlebihan
(hyperirritability) dan rasa cemas. Dalam kasus-kasus berat, dapat
menimbulkan fasikulasi otot yang merambat dari kepala, tangan dan kaki,
diikuti dengan kejang-kejang yang akhirnya dapat menimbulkan kematian.
Polychlorinated Biphenyls (PCB)
Polychlorinated Biphenyls terdiri dari senyawa-senyawa bifenil
yang mengandung l sampai 10 atom klor, sukar larut dalam air, mudah
larut dalam lemak, minyak dan pelarut-pelarut non solar lainnya. PCB
sukar mengalami penguraian, baik karena pengaruh panas maupun secara
biologis. Ia mempunyai sifat dan struktur kimia yang hampir sama dengan
pestisida. PCB dapat menyebabkan kulit terluka dan menaikkan aktivitas
enzim-enzim hati yang mempunyai efek sekunder pada proses reproduksi
(reproductive processes). Senyawa-senyawa PCB dapat bersifat “lethal”
bagi organisme perairan. Organisme laut lebih sensitif terhadap
senyawa-senyawa PCB dibanding organisme air tawar. Mereka dapat
menaikkan aktivitas enzim-enzim hati yang mengurangi steroid, termasuk
hormon kelamin.
Logam berat
Secara alamiah unsur-unsur logam berat terdapat di alam, namun
dalam jumlah yang sangat rendah. Dalam air laut kandungan logam berat
berkisar antara 10-5 – 10-2 ppm. Pada umumnya logam berat dibutuhkan
oleh organisme hidup untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya, tetapi
pada kadar tertentu bersifat racun bagi organisme perairan. Dalam
jumlah yang besar, akan bersifat racun. Toksisitas logam berat ini
tergantung pada kadar dan bentuk senyawa. Contonya Cr dapat meninggikan
kepekaan pada kulit. Tetapi air dengan kadar Cr = 0,05 ppm sangat kecil
kemungkinannya untuk dapat menimbulkan penyakit. Disamping itu
toksisitas juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan tersebut,
seperti pH, salinitas, suhu, DO dan adanya faktor sinergis dan antagonis
dari beberapa unsur dan lain-lainnya.
Radio – nuklida
Radionuklida adalah unsur-unsur yang dapat memancarkan
sinar-sinar radioaktif. Radionuklida yang memancarkan sinar α dan β
sangat berbahaya bagi jaringan tubuh. Radionuklida ini bisa terdapat
dalam air dan dapat terakumulasi dalam tubuh manusia, menyebabkan
beberapa jenis penyakit, seperti kanker tulang dan leukemia.
Chemical Oxygen Demand ( COD )
Merupakan ukuran akan banyaknya zat-zat organik yang terdapat
dalam suatu perairan. Zat-zat organik yang terdapat dalam air laut :
berasal dari alam atau buangan domestik, industri dan pertanian.
ada yang mudah diuraikan dan ada yang sukar diuraikan oleh mikroorganisme
umumnya bersifat toksik, sehingga membahayakan kehidupan organisme perairan.
berasal dari alam atau buangan domestik, industri dan pertanian.
ada yang mudah diuraikan dan ada yang sukar diuraikan oleh mikroorganisme
umumnya bersifat toksik, sehingga membahayakan kehidupan organisme perairan.
BOD5
BOD5,
yakni banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
menguraikan zat organik yang terdapat dalam air selama 5 hari,
menggambarkan banyaknya zat organik mudah terurai oleh kegiatan biokimia
dalam suatu perairan. Air dengan nilai BOD yang tinggi kurang baik
untuk budidaya.
Senyawa organik
NH3-.
Toksisitas NH3 dalam air laut lebih tinggi dibandingkan dalam air
tawar. Hal ini disebabkan air laut bersifat basa. Kandungan oksigen dan
karbon dioksida dalam air laut dapat mengurangi toksisitas amoniak
(NH3).
H2S-
Gas H2S yang terdapat dalam air laut berasal dari limbah perkotaan dan
industri. Disamping itu juga berasal dari hasil proses penguraian
zat-zat organik oleh mikroorganisme. Toksisitas H2S tergantung pada pH
air laut. Semakin rendah pH air laut semakin tinggi toksisitas H2S. Pada
kadar 0.05 ppm sudah bersifat fatal bagi organisme-organisme yang
sensitif seperti ikan “trout” (ikan forel).
CN-
Radikan sianida banyak terdapat dalam limbah industri. Toksisitas
sianida sangat dipengaruhi oleh oksigen terlarut, pH dan temperatur
perairan. Dalam bentuk bebas (HCN dan CN ) sangat beracun. Pada kadar
0,01 ppm sudah bersifat fatal bagi beberapa jenis ikan yang sensitif.
W a r n a
Air
laut berwarna karena proses alami, baik yang berasal dari proses
biologis maupun non-biologis. Produk dari proses biologis dapat berupa
humus, gambut dan lain-lain, sedangkan produk dari proses non-biologis
dapat berupa senyawa-senyawa kimia yang mengandung unsur Fe, Ni, Co, Mn,
dan lain-lain. Selain itu perubahan warna air laut dapat pula
disebabkan oleh kegiatan manusia yang menghasilkan limbah berwarna. Air
laut dengan tingkat warna tertentu/dapat mengurangi proses fotosintesa
serta dapat menganggu kehidupan biota akuatik terutama fitoplankton dan
beberapa jenis bentos.
Minyak bumi
Minyak
bumi lebih ringan daripada air laut dan di permukaan laut minyak ini
menyebar. Kecepatan penyebaran tergantung pada volume dan viskositas.
Ketebalan lapisan minyak bumi yang tertumpah di laut dapat berkisar
antara 3 – 300 m. Sebanyak 10.000 ton minyak dapat menyebar dengan
radius antara 55 mm sampai 5 ½ km (WISAKSONO 1978).
KESIMPULAN
Di
perairan pantai yang masih jauh dari kegiatan manusia di darat maupun
di laut kondisi perairan masih relatif bersih. Namun dengan pesatnya
pembangunan di Indonesia keadaan semacam itu sering tidak bertahan lama.
Perairan yang telah diperuntukkan bagi budidaya yang semula bersih dan
subur terpaksa harus mengalami tekanan pada lingkungan, baik yang
berasal dari kegiatan-kegiatan manusia di sebelah menyebelah perairan
maupun di darat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar